Bagaimana teknologi menjangkau para petani, bisa menjadi bagian dari rantai value chains perdagangan dan turut merasakan dampak positifnya?
Dengan permasalahan yang terjadi pada umumnya adalah hasil dan kegiatan bercocok tanam para petani ini tidak tercatat dan ter-update dalam bentuk data.
Salah satu kesulitan atau kekurangan ini adalah margin of error dari kemampuan forecasting yang sangat rendah.
Tanpa adanya data, sulit bagi para petani tersebut mendapatkan akses ke perbankan dan bantuan kredit usaha mikro.
Tidak hanya kebanyakan dari mereka tidak memiliki rekening bank, semua hasil kerja bertani mereka tidak memiliki pencatatan yang bisa dijadikan jaminan atau agunan oleh pihak Bank
Beragam inisiatif dari berbagai startup agritechnology untuk membantu perkembangan para petani Indonesia agar lebih sejahtera lahir dari kebutuhan untuk bisa secara lokal memiliki food-sustainability.
Berbagai platform teknologi ini menjadikan para petani sebagai sebuah kolam B2B yang didukung oleh teknologi, dan menawarkan value propositions yang dapat memberikan efisiensi dan transparansi bagi bisnis lain maupun lembaga keuangan seperti Bank.
Bagaimana teknologi mensejahterakan kehidupan para petani dan menjadikan mereka bagian dari value-chain perdagangan?
Faktor teknologi seperti blockchain membuat ekosistem B2B ini menjadi lebih efisien dan transparan.
Dengan tujuan yang tepat, yaitu mensejahterakan kehidupan petani dan memasukkan mereka ke dalam value-chain perdagangan, dan dengan implementasi yang baik, teknologi akan mampu mengubah sebuah bangsa dan sebuah generasi.
Baca juga bagaimana disrupsi dan pergeseran tren digitalisasi logistik di Indonesia.
Back