INSIGHT YOKESEN
Catatan tentang AI, eksekusi bisnis, dan teknologi yang benar-benar dipakai.
Kategori
Saat ini, bisnis dari berbagai industri berlomba menyediakan layanan digital dari hulu ke hilir, yang tujuannya meningkatkan visibilitas brand mereka, memperluas kategori produk, hingga menjangkau konsumen lebih banyak.
Tidak sedikit enterprise berskala nasional (atau disebut Brand Principal) baru masuk jalur distribusi online lewat integrasi marketplace dengan strategi D2C dalam agendanya sejak pandemi global di awal 2020 dengan bantuan ecommerce enabler.
Dan tak sedikit dari mereka yang kalah populer dibandingkan dengan pedagang-pedagang kecil lokal yang menjual produk-produk dari brand besar tadi dengan harga retail yang tinggi.
Pedagang-pedagang retail skala kecil ini memiliki keunggulan atas Brand Principal, yaitu:
1. Mereka masuk ke marketplace lebih awal (jauh lebih awal dari brand principalnya)
2. Secara lokasi dan interaksi, mereka berada lebih dekat ke konsumen / pengguna langsung.
3. Data pembeli dan data aktivitas transaksi ada pada mereka.
Salah satu pertimbangan lain Brand Principal memilih Strategi Integrasi Marketplace adalah :
- Mereka sering tidak terupdate berapa jumlah transaksi aktual dari setiap pedagang retail, sehingga dapat menghambat Brand untuk dapat melakukan mapping penyediaan dan distribusi stok hingga proyeksi tren penjualan untuk setiap area dimana pedagang retail berada
Dalam hal ini, peranan teknologi melalui ecommerce enabler memegang peranan yang sangat strategis bagi banyak bisnis saat ini, terutama yang berencana mengoptimasi strategi omnichannel mereka dalam manajemen marketplace dan manajemen gudang mereka
Dengan teknologi, Brand Principal dimungkinkan untuk terhubung dengan semua pedagang retailnya dimanapun mereka berada, sehingga mereka memiliki peluang untuk memberikan pedagang retail tersebut harga yang lebih bagus, memastikan ketersediaan produk dan pendistribusian yang lebih merata dan kemudahan pemesanan produk saat hampir habis.
Dan dengan teknologi, para pedagang retail tersebut tak hanya terhubung dengan Brand Principal, namun bisa juga memanfaatkan analitik penjualan dengan adanya integrasi marketplace untuk membantu melakukan agregasi stok barang, integrasi transaksi penjualan, proyeksi penjualan dan pemesanan produk ke Brand Principal.
Baca juga artikel Strategi Omnichannel Marketing yang efektif untuk mengoptimalkan operasional bisnis dengan lebih baik.
28 Oct 2021
Bagaimana teknologi menjangkau para petani, bisa menjadi bagian dari rantai value chains perdagangan dan turut merasakan dampak positifnya?
Dengan permasalahan yang terjadi pada umumnya adalah hasil dan kegiatan bercocok tanam para petani ini tidak tercatat dan ter-update dalam bentuk data.
Salah satu kesulitan atau kekurangan ini adalah margin of error dari kemampuan forecasting yang sangat rendah.
Tanpa adanya data, sulit bagi para petani tersebut mendapatkan akses ke perbankan dan bantuan kredit usaha mikro.
Tidak hanya kebanyakan dari mereka tidak memiliki rekening bank, semua hasil kerja bertani mereka tidak memiliki pencatatan yang bisa dijadikan jaminan atau agunan oleh pihak Bank
Beragam inisiatif dari berbagai startup agritechnology untuk membantu perkembangan para petani Indonesia agar lebih sejahtera lahir dari kebutuhan untuk bisa secara lokal memiliki food-sustainability.
Berbagai platform teknologi ini menjadikan para petani sebagai sebuah kolam B2B yang didukung oleh teknologi, dan menawarkan value propositions yang dapat memberikan efisiensi dan transparansi bagi bisnis lain maupun lembaga keuangan seperti Bank.
Bagaimana teknologi mensejahterakan kehidupan para petani dan menjadikan mereka bagian dari value-chain perdagangan?
Faktor teknologi seperti blockchain membuat ekosistem B2B ini menjadi lebih efisien dan transparan.
Dengan tujuan yang tepat, yaitu mensejahterakan kehidupan petani dan memasukkan mereka ke dalam value-chain perdagangan, dan dengan implementasi yang baik, teknologi akan mampu mengubah sebuah bangsa dan sebuah generasi.
Baca juga bagaimana disrupsi dan pergeseran tren digitalisasi logistik di Indonesia.
27 Oct 2021
Saat sebuah brand memutuskan untuk masuk retai sebagai bagian dari strategi omnichannel merekal, dimana produk mereka dipajang di toko-toko offline, maka toko offline tersebut memiliki kendali penuh atas dimana produk dari brand tersebut ditaruh di rak mereka.
Dalam sebuah riset tahun 2019, sebuah produk mengalami penurunan penjualan 25% ketika ditempatkan di rak kedua dari bawah. Sementara di toko lain, produk yang sama namun ditaruh di rak setinggi mata konsumen yaitu rak tingkat ketiga dan keempat dari bawah ternyata terjual lebih banyak.
Keterbatasan kendali atas peletakan produk ini menjadi salah satu alasan banyak brand mulai beralih ke strategi digital dengan pendekatan D2C atau Direct To Consumer.
Lalu bagaimana strategi omnichannel D2C memberikan kendali atas data dan consumer journey bagi brand?
Menjual secara langsung ke konsumen tanpa melalui third party artinya brand dapat memantau seluruh consumer journey, mulai dari awal interaksi konsumen dengan brand di media misalnya, hingga akhir yaitu saat mereka akhirnya membeli produk brand tersebut.
Anda akan memahami mengapa konsumen membeli sebuah produk (dan bagaimana) dan insights-insights lain yang tidak dapat diakses jika produk tersebut dijual melalui strategi retail tradisional.
Strategi Omnichannel DTC secara online, akan mengoptimalkan sistem berdasarkan data yang telah dikumpulkannya, dan data-data inilah yang memberikan brand sebuah competitive advantage . Termasuk diantaranya untuk :
1. Mengetahui dan melayani permintaan konsumen untuk jenis/kategori produk yang lebih luas
2. Mengoptimalkan visual untuk tampilan seluler/digital, karena traffic konsumen melalui seluler menyumbang setengah dari keseluruhan traffic
3. Menjalankan A/B test pada landing page dan konten kreatif untuk melihat mana yang paling ditanggapi oleh konsumen brand
Memiliki kuasa dalam user-experience dengan produk Anda artinya Anda bisa mengidentifikasi peluang maupun kendala dengan lebih cepat. Anda akan mengetahui hambatan dan permintaan dari pelanggan tanpa harus berebut dengan setiap toko retail untuk mendapatkan akses ke data-data pelanggan.
Dengan strategi D2C ini, brand bisa fokus pada inovasi produk dan pengembangan bisnis yang efisien, tanpa banyak biaya tambahan yang diperlukan untuk dikorbankan.
Jangan lupa baca juga artikel lainnya, bagaimana Strategi D2C PepsiCo Untuk Menanggapi Perubahan Perilaku Konsumen.
27 Oct 2021
Pasti anda kenal dengan brand CPG, PepsiCo?
Mengesampingkan kenyataan bahwa Pepsi kini telah memindahkan pabriknya dari Indonesia, parent company dari PepsiCo meluncurkan dua Strategi Omnichannel secara digital dan DTC (atau Direct To Consumer ) setelah pandemi mengubah perilaku konsumen yang sudah berubah secara global dan juga mempengaruhi cara konsumen berbelanja makanan dan minuman.
Mereka menciptakan sebuah website khusus strategi D2C Snacks.com, sebagai tempat bagi konsumen untuk membeli produk Frito-Lay sseperti Cheetos dan Lay's ketika sebagian besar toko offline diharuskan untuk tutup selama pandemi.
PantryShop.com juga ikut serta tak mau ketinggalan sebagai website yang dibuat khusus dimana konsumen bisa memesan paket-paket khusus berbagai produk PepsiCo yang populer, termasuk diantaranya seperti Gatorade, Tropicana, dan Quaker.
Kedua website ini berubah dari sekedar ide hingga soft launching hanya dalam 30 hari. Gibu Thomas, Head divisi commerce di PepsiCo, mengatakan : “Pada akhirnya, goals kami adalah ingin memberikan konsumen sebanyak mungkin pilihan dalam berbelanja produk kami kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apapun mereka nyaman berbelanja.”
Meskipun demikian, brand dengan strategi omnichannel DTC penting untuk memastikan setiap pelanggan mereka memperoleh consumer experience terbaik dari awal hingga akhir consumer-journey.
Strategi omnichannel digital PepsiCo memanfaatkan D2C untuk menanggapi perubahan perilaku konsumen ini termasuk memastikan operasional yang seamless seperti website yang mudah diakses, menyenangkan untuk dilihat ( UI UX yang simpel namun tetap menarik) dan , pilihan cara pembayaran dan pengiriman tersedia yang beragam agar dapat menyesuaikan dengan timeline dan budget masing-masing konsumen sampai barang tiba ke konsumen melalui kurir, semuanya berjalan tanpa masalah. Karena reputasi brand / bisnis juga dipertaruhkan di seluruh perjalanan user (user journey) ini.
Baca juga insights bagaimana Mengubah Proses Retur Barang Dari Menyebalkan menjadi Mengesankan Bagi Konsumen
26 Oct 2021
Manusia berhutang banyak pada alam. Dan ini mempengaruhi strategi digital branding Danone (termasuk Danone Aqua) dalam bentuk komitmen untuk melestarikan alam melalui berbagai inisiatif jangka panjang dan kemitraan yang inovatif.
Prioritas brand ini adalah memberikan konsumen produk air mineral alami yang menghidrasi dan menyegarkan hidup konsumen, tapi dengan dampak negatif yang minim pada lingkungan.
EVIAN, produk premium Danone meluncurkan desain botol baru, botol “TANPA LABEL”, dapat didaur ulang dan dibuat dari 100% plastik daur ulang*, dan tanpa label. Peluncuran ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan evian dan produk danone lainnya untuk menjadi brand yang sirkular untuk keberlanjutan alam pada tahun 2025.
Di Indonesia sendiri, campaign Danone-Aqua banyak terlihat dalam bentuk aktivitas CSR, salah satunya program “1L Aqua untuk 10L Air Bersih”, dimana tagline ini secara simbolik bertujuan untuk memudahkan audiens dan target pasar Aqua mencerna pesan yang ingin disampaikan brand, dimana setiap 1 liter yang terjual telah membantu 10 liter air bersih untuk 4 kecamatan.
Strategi Digital Branding Danone Aqua Merebut Pasar Melalui CSR dan dikenal masyarakat sebagai brand yang menginspirasi, Danone Aqua menginisiasikan campaign ‘Bagaikan Air’ yang diselenggarakan secara nasional dengan landing page website. Konten website ‘Bagaikan Air’ ini mengajak audience Aqua untuk tidak menunda berbuat kebaikan. Filosofi dibalik campaign nasional ini adalah filosofi “seperti air”, yaitu selalu bersifat fleksibel, murni, dan tenang dimanapun berada. Ketiga hal ini identik dengan kebaikan
Digital campaign yang selalu dilakukan Danone-Aqua tidak hanya berhasil memenangkan penjualan di pasar, tapi juga memperkuat value brand sebagai brand yang senantiasa menginspirasi.
Teknologi yang berkembang sangat cepat dalam kehidupan manusia sudah saatnya dapat menjadi pilar bagi dan dimanfaatkan untuk kebersinambungan alam dan memperbaiki kualitas hidup manusia, ketimbang memperburuk kondisi alam. Impelementasi teknologi harus mulai mendominasi aktivitas branding dan digital marketing brand.
Baca juga artikel lainnya tentang 3 fokus utama dalam digital branding.
15 Oct 2021
Strategi D2C (atau Direct To Consumer ) bukan tentang menjual produk langsung ke konsumen, seperti yang dilakukan oleh Tupperware secara konsisten selama belasan tahun. Direct-to-consumer (D2C) adalah tentang menggunakan teknologi yang tepat untuk menyediakan produk dan services terbaik kepada konsumen brand anda.
Didorong oleh implementasi teknologi dan penggunaan data analytic untuk memahami perilaku konsumen dan memberikan mereka lebih banyak pilihan produk, kualitas produk yang lebih baik, dan konten dipersonalisasi yang relevan dengan mereka.
Digital commerce atau bermitra dengan nama-nama besar di marketplace / ecommerce untuk memaksimalkan visibilitas produk ke basis konsumen seluas mungkin, meskipun memiliki pangsa pasar tinggi, brand tidak bisa secara langsung berinteraksi dengan pelanggan untuk mencapai metriks customer lifetime value (CLV). Dan brand tidak memiliki kendali atas data-data konsumen mereka.
Strategi D2C Nestle Melahirkan Nespresso Untuk Memenangkan Pasar Digital, sebagai produk D2C mereka untuk mendominasi pasar penikmat kopi di rumah, menjual mesin dan pod-pod kopi langsung ke konsumen secara online, melalui website dan Nespresso Club-nya, tanpa perlu mendisrupsi penjualan di pasar B2B mereka melalui distributor regional maupun marketplace
Dari sisi consumer experience , ketika membeli langsung dari brand, mereka menjadi lebih familiar dan bisa mendapatkan penawaran dan produk eksklusif dan personal, kemasan premium, dan bisa memberikan umpan balik langsung kepada brand serta pelanggan lain melalui penilaian dan ulasan.
Baca juga artikel lainnya kunci kesuksesan coca cola memenangkan loyalitas konsumen dengan strategi digital yang tepat
13 Oct 2021
Apakah Netflix sebuah platform Big Data?
Sementara banyak bisnis belum secara efektif memanfaatkan data yang tersedia untuk mereka, Netflix adalah pengecualian besar. Dengan lebih dari 148 juta pelanggan streaming di seluruh dunia, 80% konten Netflix yang diputar dipengaruhi oleh sistem rekomendasinya.
Konten film yang ditayangkan diurutkan berdasarkan analisis apakah pengguna akan terus menonton atau menonton ulang, atau apakah pengguna akan berhenti menonton karena menganggap konten tersebut kurang menarik. Algoritme affinity akan merekomendasikan konten film yang mirip dengan konten yang baru saja ditonton pengguna. Netflix spill fakta, bahwa audience cenderung ingin mengonsumsi konten yang serupa dengan yang baru saja mereka konsumsi.
Dengan banyaknya data tentang bagaimana audiens berinteraksi dengan konten film, #Netflix dapat dengan mudah menentukan jenis konten apa yang diinginkan orang. House of Cards, adalah serial yang paling fenomenal untuk penayangan dengan menganalisis data.
Netflix menyadari bahwa persentase yang signifikan, 33 juta pelanggannya pada saat itu streaming film "The Social Network", karya sutradara David Fincher, dari awal hingga akhir. Lalu Netflix menemukan juga bahwa film-film yang menampilkan Kevin Spacey selalu menjadi hits. Data Netflix mengungkapkan bahwa House of Cards versi Inggris juga menjadi hits. Audiens yang pernah menonton House of Cards versi Inggris ternyata juga pernah menonton film-film lain yang diperankan oleh Kevin Spacey atau disutradarai oleh David Fincher.
Mengandalkan data ini, Netflix menyimpulkan bahwa film yang dibintangi oleh aktor Kevin Spacey dan film karya sutradara David Fincher, bila disajikan ke pemirsa Amerika akan menjadi hit besar.
Dan benar saja! Tiga bulan setelah House of Cards tayang, Netflix menambahkan 2 juta pelanggan di AS dan tambahan 1 juta pelanggan secara global.
Penasaran dengan metriks data apa saja yang dipakai Netflix? berikut penjelasan Netflix, bahwa mereka menggunakan data:
- Tanggal streaming
- Device untuk streaming
- Variasi film setiap user
- Pencarian
- Konten yang ditonton ulang
- Apakah konten dijeda saat ditonton
- Lokasi pengguna
- Waktu dalam sehari dan minggu untuk streaming konten
- Metadata dari pihak ketiga seperti Nielsen
- Data audiens di media sosial seperti Facebook dan Twitter
Netflix berfokus memberi apa yang diinginkan usernya melalui konten yang dipersonalisasi.
Seperti Netflix, bisnis dapat menggunakan #bigdataanalytics untuk memastikan bahwa konten yang dikirimkan ke setiap pengguna dipengaruhi oleh aktivitas pribadi pengguna dan #consumerengagement dengan brand Anda, memastikan pengalaman konten yang unik untuk setiap pengguna.
Baca juga bagaimana starbucks membangun consumer experience dan memastikan pertumbuhan bisnisnya.
13 Oct 2021